Friday, March 19, 2021

Pengalaman Mendapat Giliran Terkena COVID19

This is not holiday experience, this is another experience that happened to me fighting this Covid19 Virus.

RABU, 3 MARET 2021
Pagi yang indah saya awali dengan rutinitas harian sebelum WFH dengan lari pagi lari bolak balik kaya setrikaan di gang depan rumah, pagi ini saya menargetkan lari sekitar 7km karena senin-selasa kemarin masing2 sudah 10km. Saya juga mau mengetest bluetooth earphone yang baru dibeli tes untuk penyesuaian di telinga, memang larinya kurang nyaman karena beberapa kali lepas dari telinga sehingga sering berhenti mencoba cara agar earphonenya pas di telinga, akhirnya waktu terbatas dan hanya dapat 5km saja.

Setelah lari dilanjut dengan rapat2 WFH diselingi menyelesaikan pekerjaan sepanjang hari, nah disini sekitar jam 10an mulai terasa kepala agak pusing, saya hanya berpikir biasa nih habis lari kalau telat minum suka timbul gejala dehidrasi, akhirnya diputuskan untuk minum sebanyak2nya, sampai jam 2an siang pusing belum mereda terpaksa ambil panadol biru diminumkan, pusing agak mereda tapi badan seperti ada yang aneh.

Tidak lama abis magrib badan agak hangat ditambah pusing datang kembali, saya pikir mungkin masuk angin ditambah kecapean karena lari 3 hari dapat 25km, minta dikerokin istri tercinta, agak mereda mungkin karena kerokan katanya mengeluarkan hormon endorfin yang bikin tubuh nyaman, gak percaya? Cek mbah gugel.

Namun kenyamanan itu hanya sementara, malamnya badan meriang, menggigil, suhunya berapa gak paham karena nyari termometer gak ketemu terselip dimana, semalaman gak bisa tidur, pagi pun masih meriang, akhirnya ijin cuti kamis-jumat untuk istirahat.

KAMIS, 4 MARET 2021
Kondisi badan di kamis pagi masih meriang, pusing, pegal linu seluruh tubuh, namun tidak ada bersin2, hidung tersumbat, tenggorokan gatal, dan batuk batuk.

Dihantui dengan penyakit C19 yang membayangi, akhirnya pagi itu juga saya coba melakukan rapid swab antigen di siloam hospital dengan hasil negatif seperti dibawah
Merasa tidak percaya dengan hasilnya, saya coba hubungi dokter kantor untuk minta surat pengantar rujukan tes Swab PCR di RSPJ, rujukan disetujui siang itu juga meluncur ke RSPJ untuk diambil swab PCR dengan hasil keluar besok. Malam ini saya melakukan isolasi mandiri dikamar bawah yang biasa dipakai oleh tamu. Badan masih panas naik turun hanya diminumin sanmol kalau suhu sudah mencapai 39.

JUMAT, 5 MARET 2021
Pagi ini kondisi badan seperti agak membaik, suhu tubuh pagi ini cukup baik di 36-37an, saya coba buang sugesti Covid 19, karena memang tidak ada batuk/pilek yang menyertai, saturasi oksigen pun di level 98, saya menyediakan oxymeter dirumah.

Jam 10 dapat berita yang menggembirakan, kalau swab PCR saya hasilnya negatif, seperti gbr dibawah, berarti curiga saya adalah DBD karena memang lagi banyak2nya nyamuk dirumah.
Habis sholat jumat segera meluncur ke Eka Hospital untuk cek darah apakah penyakit saya tipes atau DBD, berbekal hasil swab PCR negatif saya mencoba meyakinkan ke dokter bahwa saya tidak terinfeksi Covid19.

Hasil cek darah keluar dan hasilnya, semua negatif, DBD dan Tipus negatif, jadi saya hanya dikasih paracetamol dosis tinggi dan vitamin, jika tidak mereda 2/3 hari lagi test darah kembali

Hari jumat ini, suhu badan saya tertinggi 37.8, cukup senang mungkin besok akan sembuh.

SABTU, 6 MARET 2021
Semalaman meriang timbul kembali namun bisa diatasi dengan paracetamol, pagi ini agak segar, makan bisa banyak, namum menjelang siang suhu tubuh meninggi kembali 38-39 derajat, paracetamol hanya bisa bertahan 1 jam, setelah itu naik lagi suhunya, begitu terus, Alhasil habis sholat Isya saya gak kuay dan sudah mulai muntah, mau minta dirawat saja agar suhu tubuh stabil.

Dibawalah saya sama istri ke IGD Eka Hospital BSD, istri sudah menyiapkan 2 koper, koper pertama untuk saya berdua kalau harus dirawat, koper ke2 rencana menitipkan anak2 dirumah kakaknya istri di Ciputat, jadi ketemuan di eka hospital.

Masuklah ke IGD Eka Hospital dengan surat negatif covid19, langsung diinfus paracetamol untuk menurunkan suhu, namun persyaratan RS tetap harus swab ulang untuk memastikan saya bebas covid19 agar tidak mengkontaminasi ruang perawatan non covid.

Hasil swab akan keluar besok sore, akhirnya saya menginap di IGD, istri menginap di hotel Grand Zuri sekitar RS, di IGD terungkap trombosit saya turun ke 130ribu dari normal 150ribu dan SGOT 305 serta SGPT 590 dari standar maximum 50, akhirnya dicek kemungkinan terserang hepatitis atau pembengkakan hati/inspeksi hati dan liver.

Semalaman di IGD gak bisa tidur sama sekali karena serangan meriang timbul lagi setelah infus paracetamolnya habis selain itu ada 2 pasien menggunakan ventilator dengan suara mesin yang cukup bising beliau sama menunggu hasil swab PCR sebelum masuk ke kamar (semoga nasib 2 pasien tersebut bisa diselamatkan).

MINGGU, 7 MARET 2021
Singkat kata selama menunggu hari minggu ini nafsu makan saya berkurang, dan akhirnya muntah2 di IGD setelah makan, minggu sekitar jam 3 sore akhirnya diumumkan berita bak petir di siang bolong kalau hasil swab PCR saya positif 😰 

Sewaktu pengumuman istri sedang diluar mencari makan dan masjid untuk sholat, beliau langsung shock begitu mendengarnya (maafkan aku ya sayang) trace back sepertinya saya terpapar C19 di samsat sabtu tgl 28 Feb 2021 sewaktu perpanjangan 5 tahun STNK yang sudah hampir mati 1 tahun, disini point lengah saya, padahal prokes tetap ketat hanya saya lupa double masker, biasanya memakai double masker jika ada kerumunan, ini saya lupa bawa masker medis untuk didouble 😰

Akhirnya saya dipindah keruang IGD yang khusus positif C19, istri pun sudah tidak diperbolehkan menunggu, saya pun langsung dibawa ke ruang isolasi perawatan khusus COVID19.

8 - 11 MARET 2021
Perawatan khusus COVID dimulai, saya ditempatkan di ruang perawatan COVID "cluster" di lantai 8, kenapa dinamakan cluster karena kamarnya seperti kos2an sharing kamar mandi, jadi 1 ruang sendiri namun kamar mandinya rerpisah (bareng dengan pasien lain) kalau gak salah ada 7 ruang rawat dan 2 kamar mandi lengkap dan 1 toilet, seharusnya jatah asuransi saya ruang VIP namun karena perawatan covid dan saya tidak butuh alat khusus, asuransi mendowngrade ruang rawat saya, so far gak ada masalah toh gak ada yang boleh menjenguk ini.

USG dilakukan ternyata terjadi pembengkangan di empedu, hati dan ginjal, itulah yang menyebabkan SGPT dan SGOT saya tinggi, Alhamdulilah uji test Hepatitis hasilnya negatif
Trombosit pun mencapai titik terendah di 30ribu, dan dokter menyampaikan kalau saya double infection, C19 & DBD, jadi selama dirawat banyak sekali cairan obat melalui infus, khusus covid sendiri obatnya antivirus, vitamin D, vitamin C, sama antibiotik mencegah infeksi lain, ditambah cairan infus penguatan paru walaupun paru2 kondisinya bagus tetap dipakai untuk pencegahan, untuk DBD cairan elektrolit, untuk hati infus penguatan liver ditambah lagi suntikan untuk mual dan lambung serta obat minum lainnya kaya vitamin D vitamin B1 untuk liver, belum lagi paracetamol cairan infus/obat oral jika panas, banyak sekali obat dan vitamin yang masuk ke dalam tubuh
Total tangan kiri 3x ditusuk saluran infus dan tangan kanan 1x, kenapa 1x karena sempat terjadi memar di tangan kanan jadi tidak direkomendasikan lagi
Kamis tanggal 11 Maret, saya merasa tubuh saya membaik, mual berangsur menghilang, trombosit sudah dilevel 133ribu mendekati batas minimal 150ribu, nafsu makan agak naik walaupun masih belum suka sama masakan RS, lebih memilih pisang atau buah lainnya yang dibawa istri
Hari kamis itupun saya di swab PCR ulang, berdoa semoga hasilnya negatif, butuh 2x swab negatif baru bisa divonis bebas C19.

Btw hari senin, istri dan anak2 sempat di swab PCR, Alhamdulilah hasil semuanya negatif, ini yang membuat imun meningkat.

JUMAT 12 MARET 2021
Alhamdulilah jumat pagi mendapat kabar kalau hasil test PCR pertama hasilnya negatif, langsung dilanjut dengan swab kedua, dan Alhamdulilah sorenya langsung keluar hasilnya dan negatif untuk kedua kalinya.
Namun dokter belum memberi ijin pulang karena kekentalan darahnya lumayan tinggi nilai D-Dimmer diangka 2800 dari seharusnya 500, jadi perlu ditreatment dulu, malam itu juga saya pindah ke ruang perawatan non covid, diinjeksi suntikan kalau gak salah namanya DVI yakni untuk pengencer darah.

SABTU 2 MARET 2021
Kamar perawatan sudah kembali ke kamar VIP sesuai plafond saya, secara psikologis lebih safe karena tidak gabung dengan pasien lain untuk kamar mandinya, ditambah ruang perawatan non covid perawat sudah tidak pakai baju astronot dan dokter sudah mau visit keruangan, sebelumnya lewat video call, overal kondisi badan sudah membaik, jadi saya tinggal menunggu hasil dari uji lab D-Dimmer yang rencananya akan diuji lab besok hari minggu, perlu 2x suntikan DVI untuk melihat hasilnya.

MINGGU 3 MARET 2021
Minggu sehabis subuh diambil darah kembali untuk uji lab D-Dimmer dan cek darah lainnya, sore sewaktu dokter Suwendi, spesialis penyakit dalam, visit memberitahukan informasi bahagia bahwa hasil D-Dimmer saya sudah 410, tinggal SGPT dan SGOT saya yang masih tinggi.

Disitu dokter baru cerita kenapa melarang saya untuk isoman dirumah karena khawatir dengan pengentalan darahnya, Alhamdulilah dokter berinisiatif untuk cek D-Dimmer saya setelah dapat info C19 negatif, pengentalan darah ini efek samping dari si virus Covid, jika tidak ditangani segera dapat menyumbat pembuluh darah menyebabkan stroke atau bahkan serangan jantung, beliau suruh baca artikelnya pak Dahlan Iskan untuk jelasnya

https://www.disway.id/r/1214/penantian-d-dimer

Untuk isoman dirumah, keputusan ada di dokter spesialis paru yg merawat covid saya, Dr Kristov masih belum mengijinkan saya isoman dirumah dikarenakan masih ada obat antivirus yang perlu dituntaskan, paling cepat senin saya bisa diijinkan pulang.

SENIN 15 MARET 2021
Alhamdulilah akhirnya saya diberikan ijin pulang untuk isoman dirumah, kondisi badan sendiri sudah jauh lebih enak, Alhamdulilah kantor membayar full biaya pengobatan saya selama 10 hari mencapai Rp 73.8 juta, saya hanya bayar 200ribu untuk multivitamin sebagai rawat jalan.

SELASA 16 MARET 2021
Ternyata efek dari Covid19 belum selesai, sore hari sehabis bangun tidur siang, tiba2 seluruh badan saya gatal luar biasa, timbul ruam2 merah diseluruh badan, seperti orang terkena alergi, pagi hari nya makin banyak ruam2 yang terjadi, seblum ke RS kembali saya konsultasi ke keponakan yang spesialis penyakit kulit, beliau menyampaikan kalau itu adalah manifestasi dari covid19 isitlahnya viral exanterna, dikasih obat anti alergi cetirizine, Alhamdulilah diminumkan obat itu rasa gatal berkurang walaupun bercak2 merah masih menyebar diseluruh tubuh
Alhamdulilah Jumat pagi 19 Maret bercak merah mulai memudar dan gatal pun hilang, kondisi sekarang sudah tidak ada yang dirasa lagi, semoga tidak ada timbul efek lanjutannya, tinggal hari senin 22 Maret, cek darah kembali dan kontrol ke dokter terutama untuk SGPT dan SGOT nya.

Semoga teman2 yang membaca blog ini tidak sampai terkena virus C19 ini, tetap jaga kesehatan.

Sunday, August 23, 2020

Banyuwangi - Bali Day 8 : 28 DEC 2019 (Blue Lagoon Beach, GWK)

Saya terbangun sebelum subuh, karena badan terasa dingin, ternyata suhu di display HP menunjukkan 19°C lumayan dingin, mencoba tidur kembali pun sudah tidak bisa, akhirnya menunggu subuh yang kira2 30 menit lagi.

Setelah sholat subuh, cuaca terlihat cukup cerah siluet gunung agung pun mulai tampak, sekitar jam 5 saya naik ke rooftop penginapan, penginapan ini punya rooftop untuk mengamati sunrise, disisi lain ke arah Gunung Batur, cahaya cahaya senter berkelap kelip mengarah ke atas gunung batur, Gunung Batur sendiri punya spot untuk trekking ke puncaknya, sebagai informasi jika mau naik keatas bisa mulai naik sekitar jam 2 pagi, spot yang ditawarkan adalah menyaksikan sunrise dari puncak gunung, well karena kita bawa anak, tujuan ini kita coret dan kita cukup puas menyaksikan sunrise dari rooftop penginapan, tidak ada halangan apapun untuk menyaksikan sunrise.

Sekitar jam 5.30 matahari secara perlahan mulai menunjukkan cahayanya, lokasi matahari terbit diarah sekitar gunung agung dan caldera dari gunung batur purba, cuaca cukup cerah yang mengarah ke gunung Agung, namun sepertinya awan setelah gunung agung cukup tebal, jadi yang terlihat hanya bias cahayanya saja, mataharinya sendiri tidak terlihat karena tertutup awan.


Sunrise di lembah Batur


View dari Tiing

Setelah sarapan, kita check out dan melanjutkan perjalanan ke arah Blue Lagoon Beach, lokasinya didekat padang bai, dari informasi yang saya baca lokasi ini bagus untuk snorkling di pinggir pantai, rencana saya dan Dzakia akan mencoba snorkling disini.

Perjalanan dari utara ke selatan (timur bali) menempuh waktu sekitar 2 jam. Sekitar jam 12an kita tiba di Blue Lagoon Beach, lokasinya cukup terpencil di sebuah teluk kecil, pengunjung yang kami temui 100% turis asing, sampai sini ibunya anak2 dan Ditha ogah untuk turun, karena udah capek jadi hanya saya dan Dzakia yang turun ke pantainya.

Setelah tiba dipantai memang hampir semua turis melakukan snorkling, saya dan Dzakia membatalkan niat snorkling karena cuaca aangat panas dan ombaknya juga cukup besar, akan susah untuk snorkling.

Blue Lagoon Beach
Akhirnya saya dan Dzakia kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke arah GWK (sebelumnya kita gagal kesini dan jadi penasaran).

Dalam perjalanan sempat mampir ke Krisna mencari oleh oleh.

Sekitar jam 4 sore, kita sampai di GWK, beli tiket masuknya kita pakai KLOOK dapat diskon, harga tiket lumayan mahal normalnya dewasa 125 ribu dan anak2 100 ribu pakai klook dapat diskon jadi 110 dan 80 ribu.

Tips dari kami sebaiknya datang dari pagi, karena banyak pertujukan yang akan terlewatkan jika tiba sudah sore. Kamipun hanya tersisa 1 pertunjukan yakni tari kecak, karena kita sudah lihat di Uluwatu jadi kita explore GWK saja, muter2 di GWK sekitar jam 19.30 kita keluar dari GWK untuk kembali ke Hotel, selain itu saya juga udah janji sama rental mobil untuk diambil mobilnya dihotel sekitar jam 9 malam.


Bergaya di GWK

Hotel menginap kita hari ini di Harris Tuban, persis sebelah bandara, kita menginap disini karena besok flight ke Jakarta jam 9 pagi dan bisa hanya jalan kaki ke Bandara, ternyata sewaktu check ini ada free antar jemput shuttle ke Bandara, Alhamdulilah besok pagi tidak perlu jalan.
Perjalanan hari ini dari utara ke selatan
Tags : GWK, Batur Sunrise, Blue Lagoon Beach

Banyuwangi - Bali Day 7 : 27 DEC 2019 (Danau Batur)

Pagi ini kami betangkat agak santai, karena tempat yang dituju hanya Danau Batur dan Sholat Jumat, jam 9an kita pun check out dari penginapan, lanjut ke rumah makan jawa timur untuk sarapan.

Selesai sarapan kita meluncur ke Danau Batur, sampai Danau Batur sekitar jam 10.30 kita pun hanya nongkrong di area diatas tebing lembah, yang merupakan caldera dari Gunung Batur Purba jadi bisa melihat seluruh lokasi dan lokasinya juga dipinggir jalan. Kita berencana untuk turun kebawah setelah Sholat Jumat



Gunung Batur & Danau Batur
Sekitar jam 11.45 kita pun bergegas ke Masjid Al Muhajirin di Kintamani untuk sholat Jumat
Masjid Besar Al Muhajirin Kintamani

Setelah sholat Jumat, lanjut makan siang di dekat Masjid, setelah itu kita lanjut ke bagian bawah kaki gunung Batur untuk melihat lava rock sisa sisa letusan gunung Batur


Lava Rock Gunung Batur
Setelah puas berkeliling kitapun memilih untuk beristirahat di penginapan, sempat ada keinginan ke desa Trunyan dimana disana ada sistem pengawetan mayat secara alami, dimana mayat/jenazah manusia diletakkan begitu saja dibawah pohon Trunyan, nantinya jasad tersebutakam terurai namun tidak mengeluarkan bau busuk, akses kesana hanya bisa menggunakan perahu menyebrangi danau Batur, kami memilih tidak kesana karena membawa anak-anak dan cuaca juga mendung agak gerimis.

Akhirnya kita bergerak ke penginapan, yakni Tiing Bali Guest House, penginapan ini cukup murah dapat dari booking.com dan letaknya pun sangat strategis dengan view gunung batur, danau batur dan gunung Agung jika cuaca cerah terlihat.
Tiing Bali Guest House


View dari Tiing Bali Guest House


Gunung Batur dari Tiing Guest House

View dari teras kamar
Gunung Agung masih tertutup awan

Di penginapan ini, temboknya dilapisi dengan bilik bambu, seolah2 kita menginap di gubuk bambu, padahal hanya temboknya saja yang dilapis, kita menginap semalam disini.

Rute perjalanan hari ini

Tag : Gunung Batur, Kintamani, Tiing Bali Guest House

Banyuwangi - Bali Day 6 : 26 DEC 2019 (Ubud, Penglipuran, Besakih)

Sekitar jam 7.30 kita keluar hotel, spot pertama yang dituju Tegalalang Rice Field Ubud, perjalanan hanya 20 menit dari penginapan, disini kita hanya sebentar foto2 dan balik lagi ke mobil, nothing special karena sawahnya sebagian sudah dipanen dan sebagian lagi siap panen jadi hamparannya kurang hijau.
Tegalalang Rice Fields

Perjalanan dilanjutkan ke Istana Kepresidenan Tampak Siring, sampai sini ternyata zonk, ternyata kita tidak boleh masuk ke dalam, jika ingin berkunjung harus membuat surat ijin 1 minggu sebelumnya, kecewa karena baca review di google map tidak ada yang mengarahkan kalau harus buat surat ijin, akhirnya kitapun mutar balik ke spot berikutnya, di google map pun saya tambahkan review jika harus ijin dahulu agar tidak ada orang yang zonk seperti kami.

Spot berikutnya kita ke desa wisata Penglipuran, tidak ada tiket masuk, hanya biaya parkir sebesar 15,000. Desa ini ditata sedemikian rupa sehingga nyaman dan cantik untuk dikunjungi, desanya pun bersih, hanya ada 1 jalan lurus dari bawah ke atas +/- 500 meter yang diujung atasnya terdapat pura, ada puluhan rumah2 penduduk di kanan kiri yang bangunan pintu masuknya dibuat mirip, jadi seperti masuk dilingkungan cluster perumahan, bedanya disini tidak ada kendaraan yang boleh masuk dan bangunan rumah di kanan kirinya bercorak khas Bali, setiap rumah rata-rata menyediakan beragam hasil kerajinan tangan mulai dari tas rotan, pajangan dan pakaian untuk dijadikan cinderamata, cukup bagus konsepnya dengan memberdayakan perekonomian warga lokal, barang yang ditawarkan pun jauh lebih murah dibandingkan jika beli oleh2/cinderamata di pusat kota, ditambah bisa dilakukan negosiasi ala emak2 😀




Desa Penglipuran

Setelah puas berkeliling, kita pun keluar dari desa dan mencari makan siang, cari lokasi di google map untuk makan siang halal, diarahkan ke kota Bangli dimana terdapat rumah makan muslim khas ngawi, akhirnya kita makan disana dilanjutkan dengan sholat Dhuhur dijamak Ashar di masjid sebelah rumah makan, oh ya saat itu sedang ada sholat gerhana matahari cincin di masjid tersebut.

Waktu masih menunjukkan pukul 14.00, sesuai jadwal seharusnya kita sudah kembali ke penginapan, karena masih siang akhirnya kita lanjutkan ke Pura Besakih, seharusnya jadwalnya baru akan dikunjungi besok.

Sekitar perjalanan 30 menit, tibalah kita di Pura Besakih, kondisi cuaca gerimis, kamipun menyewa payung, jarak antara parkiran dengan pura lumayan jauh, namun gratis naik ojek untuk ke pura nya (sekali jalan) harga tiket udah termasuk ojek dan pemandu.

Setelah membeli tiket, Alhamdulilah hujan pun mereda, sia2 kita menyewa payung.

Setelah diturunkan oleh tukang ojek tepat dibawah gerbang masuk pura, tiba2 segerombolan ibu2 mengasih sesajian plus dupa, kita bingung buat apa ini karena kami Muslim dan gak perlu gini2an, mereka serempak bilang harus bawa ini untuk menghormati, akhirnya terpaksa diambil dengan harga per pack 10ribu dikali 4 pack.
Lokasi kita kena scam sesaji
Setelah jalan 50 meter dari situ, ada ibu penjual sesaji menanyakan, buat apa bawa sesaji, kan tidak digunakan untuk sembayang, lah kita bingung, akhirnya dijelaskan sama si ibu kalau kita sudah dibohongi, perasaan jengkel penuh kesal timbul kalau kita udah kena scam 🤬 akhirnya sesajinya kita kasihkan ke ibu itu, hal yang kita sesalkan juga guide yang membawa kita (dia salah satu tukang ojeknya) tidak bilang sama sekali, dia setelah turun dari motor si guide langsung ke kantor penjagaan untuk mengecap tiket kita, jadi baru ketemu lagi setelah kita melewati si ibu penjual yang tadi.

Pura Besakih merupakan pura terbesar di Bali, bisa dibilang pura ini merupakan ibu dari semua pura yang ada di Bali, Pura Besakih ini persis dibawah kaki gunung Agung, namun sayang sekali sewaktu kita disana gunung agungnya tertutup kabut tebal jadi tidak bisa difoto dengan bagus.
Pura Besakih
Jika cerah backgroundnya gunung Agung




Setelah semua komplek dijelajahi, kita pun kembali ke arah parkiran, dengan terlebih dahulu mengabadikan para ibu2 pelaku pemaksaan membeli sesaji.

Jalan ke parkiran menurun jadi tidak terasa capek, disepanjang jalan sebelah kanan banyak yang menjual oleh2 mulai dari kerajinan tangan sampai baju2, tips kalau ingin membeli sebaiknya disini karena kalau beli di pusat kota seperti di Krisna dengan barang yang sama jauh lebih murah disini.

Setelah puas belanja, kamipun kembali ke penginapan, ternyata area Ubud Central nya macet luar biasa, tiba di penginapan jam 8 malam dan seperti kemarin sudah ditunggu 4-5 anjing galak 😀 dan kitapun panggil staff penginapan lagi untuk mengamankan anjing2 tersebut 😀
Rute hari ini


Tag : Pura Besakih, Desa Penglipuran, Tegalalang Rice Field