RABU, 3 MARET 2021
Pagi yang indah saya awali dengan rutinitas harian sebelum WFH dengan lari pagi lari bolak balik kaya setrikaan di gang depan rumah, pagi ini saya menargetkan lari sekitar 7km karena senin-selasa kemarin masing2 sudah 10km. Saya juga mau mengetest bluetooth earphone yang baru dibeli tes untuk penyesuaian di telinga, memang larinya kurang nyaman karena beberapa kali lepas dari telinga sehingga sering berhenti mencoba cara agar earphonenya pas di telinga, akhirnya waktu terbatas dan hanya dapat 5km saja.
Setelah lari dilanjut dengan rapat2 WFH diselingi menyelesaikan pekerjaan sepanjang hari, nah disini sekitar jam 10an mulai terasa kepala agak pusing, saya hanya berpikir biasa nih habis lari kalau telat minum suka timbul gejala dehidrasi, akhirnya diputuskan untuk minum sebanyak2nya, sampai jam 2an siang pusing belum mereda terpaksa ambil panadol biru diminumkan, pusing agak mereda tapi badan seperti ada yang aneh.
Tidak lama abis magrib badan agak hangat ditambah pusing datang kembali, saya pikir mungkin masuk angin ditambah kecapean karena lari 3 hari dapat 25km, minta dikerokin istri tercinta, agak mereda mungkin karena kerokan katanya mengeluarkan hormon endorfin yang bikin tubuh nyaman, gak percaya? Cek mbah gugel.
Namun kenyamanan itu hanya sementara, malamnya badan meriang, menggigil, suhunya berapa gak paham karena nyari termometer gak ketemu terselip dimana, semalaman gak bisa tidur, pagi pun masih meriang, akhirnya ijin cuti kamis-jumat untuk istirahat.
KAMIS, 4 MARET 2021
Kondisi badan di kamis pagi masih meriang, pusing, pegal linu seluruh tubuh, namun tidak ada bersin2, hidung tersumbat, tenggorokan gatal, dan batuk batuk.
Dihantui dengan penyakit C19 yang membayangi, akhirnya pagi itu juga saya coba melakukan rapid swab antigen di siloam hospital dengan hasil negatif seperti dibawah
Merasa tidak percaya dengan hasilnya, saya coba hubungi dokter kantor untuk minta surat pengantar rujukan tes Swab PCR di RSPJ, rujukan disetujui siang itu juga meluncur ke RSPJ untuk diambil swab PCR dengan hasil keluar besok. Malam ini saya melakukan isolasi mandiri dikamar bawah yang biasa dipakai oleh tamu. Badan masih panas naik turun hanya diminumin sanmol kalau suhu sudah mencapai 39.
JUMAT, 5 MARET 2021
Pagi ini kondisi badan seperti agak membaik, suhu tubuh pagi ini cukup baik di 36-37an, saya coba buang sugesti Covid 19, karena memang tidak ada batuk/pilek yang menyertai, saturasi oksigen pun di level 98, saya menyediakan oxymeter dirumah.
Jam 10 dapat berita yang menggembirakan, kalau swab PCR saya hasilnya negatif, seperti gbr dibawah, berarti curiga saya adalah DBD karena memang lagi banyak2nya nyamuk dirumah.
Habis sholat jumat segera meluncur ke Eka Hospital untuk cek darah apakah penyakit saya tipes atau DBD, berbekal hasil swab PCR negatif saya mencoba meyakinkan ke dokter bahwa saya tidak terinfeksi Covid19.
Hasil cek darah keluar dan hasilnya, semua negatif, DBD dan Tipus negatif, jadi saya hanya dikasih paracetamol dosis tinggi dan vitamin, jika tidak mereda 2/3 hari lagi test darah kembali
Hari jumat ini, suhu badan saya tertinggi 37.8, cukup senang mungkin besok akan sembuh.
SABTU, 6 MARET 2021
Semalaman meriang timbul kembali namun bisa diatasi dengan paracetamol, pagi ini agak segar, makan bisa banyak, namum menjelang siang suhu tubuh meninggi kembali 38-39 derajat, paracetamol hanya bisa bertahan 1 jam, setelah itu naik lagi suhunya, begitu terus, Alhasil habis sholat Isya saya gak kuay dan sudah mulai muntah, mau minta dirawat saja agar suhu tubuh stabil.
Dibawalah saya sama istri ke IGD Eka Hospital BSD, istri sudah menyiapkan 2 koper, koper pertama untuk saya berdua kalau harus dirawat, koper ke2 rencana menitipkan anak2 dirumah kakaknya istri di Ciputat, jadi ketemuan di eka hospital.
Masuklah ke IGD Eka Hospital dengan surat negatif covid19, langsung diinfus paracetamol untuk menurunkan suhu, namun persyaratan RS tetap harus swab ulang untuk memastikan saya bebas covid19 agar tidak mengkontaminasi ruang perawatan non covid.
Hasil swab akan keluar besok sore, akhirnya saya menginap di IGD, istri menginap di hotel Grand Zuri sekitar RS, di IGD terungkap trombosit saya turun ke 130ribu dari normal 150ribu dan SGOT 305 serta SGPT 590 dari standar maximum 50, akhirnya dicek kemungkinan terserang hepatitis atau pembengkakan hati/inspeksi hati dan liver.
Semalaman di IGD gak bisa tidur sama sekali karena serangan meriang timbul lagi setelah infus paracetamolnya habis selain itu ada 2 pasien menggunakan ventilator dengan suara mesin yang cukup bising beliau sama menunggu hasil swab PCR sebelum masuk ke kamar (semoga nasib 2 pasien tersebut bisa diselamatkan).
MINGGU, 7 MARET 2021
Singkat kata selama menunggu hari minggu ini nafsu makan saya berkurang, dan akhirnya muntah2 di IGD setelah makan, minggu sekitar jam 3 sore akhirnya diumumkan berita bak petir di siang bolong kalau hasil swab PCR saya positif 😰
Sewaktu pengumuman istri sedang diluar mencari makan dan masjid untuk sholat, beliau langsung shock begitu mendengarnya (maafkan aku ya sayang) trace back sepertinya saya terpapar C19 di samsat sabtu tgl 28 Feb 2021 sewaktu perpanjangan 5 tahun STNK yang sudah hampir mati 1 tahun, disini point lengah saya, padahal prokes tetap ketat hanya saya lupa double masker, biasanya memakai double masker jika ada kerumunan, ini saya lupa bawa masker medis untuk didouble 😰
Akhirnya saya dipindah keruang IGD yang khusus positif C19, istri pun sudah tidak diperbolehkan menunggu, saya pun langsung dibawa ke ruang isolasi perawatan khusus COVID19.
8 - 11 MARET 2021
Perawatan khusus COVID dimulai, saya ditempatkan di ruang perawatan COVID "cluster" di lantai 8, kenapa dinamakan cluster karena kamarnya seperti kos2an sharing kamar mandi, jadi 1 ruang sendiri namun kamar mandinya rerpisah (bareng dengan pasien lain) kalau gak salah ada 7 ruang rawat dan 2 kamar mandi lengkap dan 1 toilet, seharusnya jatah asuransi saya ruang VIP namun karena perawatan covid dan saya tidak butuh alat khusus, asuransi mendowngrade ruang rawat saya, so far gak ada masalah toh gak ada yang boleh menjenguk ini.
USG dilakukan ternyata terjadi pembengkangan di empedu, hati dan ginjal, itulah yang menyebabkan SGPT dan SGOT saya tinggi, Alhamdulilah uji test Hepatitis hasilnya negatif
Trombosit pun mencapai titik terendah di 30ribu, dan dokter menyampaikan kalau saya double infection, C19 & DBD, jadi selama dirawat banyak sekali cairan obat melalui infus, khusus covid sendiri obatnya antivirus, vitamin D, vitamin C, sama antibiotik mencegah infeksi lain, ditambah cairan infus penguatan paru walaupun paru2 kondisinya bagus tetap dipakai untuk pencegahan, untuk DBD cairan elektrolit, untuk hati infus penguatan liver ditambah lagi suntikan untuk mual dan lambung serta obat minum lainnya kaya vitamin D vitamin B1 untuk liver, belum lagi paracetamol cairan infus/obat oral jika panas, banyak sekali obat dan vitamin yang masuk ke dalam tubuh
Total tangan kiri 3x ditusuk saluran infus dan tangan kanan 1x, kenapa 1x karena sempat terjadi memar di tangan kanan jadi tidak direkomendasikan lagi
Kamis tanggal 11 Maret, saya merasa tubuh saya membaik, mual berangsur menghilang, trombosit sudah dilevel 133ribu mendekati batas minimal 150ribu, nafsu makan agak naik walaupun masih belum suka sama masakan RS, lebih memilih pisang atau buah lainnya yang dibawa istri
Hari kamis itupun saya di swab PCR ulang, berdoa semoga hasilnya negatif, butuh 2x swab negatif baru bisa divonis bebas C19.
Btw hari senin, istri dan anak2 sempat di swab PCR, Alhamdulilah hasil semuanya negatif, ini yang membuat imun meningkat.
JUMAT 12 MARET 2021
Alhamdulilah jumat pagi mendapat kabar kalau hasil test PCR pertama hasilnya negatif, langsung dilanjut dengan swab kedua, dan Alhamdulilah sorenya langsung keluar hasilnya dan negatif untuk kedua kalinya.
Namun dokter belum memberi ijin pulang karena kekentalan darahnya lumayan tinggi nilai D-Dimmer diangka 2800 dari seharusnya 500, jadi perlu ditreatment dulu, malam itu juga saya pindah ke ruang perawatan non covid, diinjeksi suntikan kalau gak salah namanya DVI yakni untuk pengencer darah.
SABTU 2 MARET 2021
Kamar perawatan sudah kembali ke kamar VIP sesuai plafond saya, secara psikologis lebih safe karena tidak gabung dengan pasien lain untuk kamar mandinya, ditambah ruang perawatan non covid perawat sudah tidak pakai baju astronot dan dokter sudah mau visit keruangan, sebelumnya lewat video call, overal kondisi badan sudah membaik, jadi saya tinggal menunggu hasil dari uji lab D-Dimmer yang rencananya akan diuji lab besok hari minggu, perlu 2x suntikan DVI untuk melihat hasilnya.
MINGGU 3 MARET 2021
Minggu sehabis subuh diambil darah kembali untuk uji lab D-Dimmer dan cek darah lainnya, sore sewaktu dokter Suwendi, spesialis penyakit dalam, visit memberitahukan informasi bahagia bahwa hasil D-Dimmer saya sudah 410, tinggal SGPT dan SGOT saya yang masih tinggi.
Disitu dokter baru cerita kenapa melarang saya untuk isoman dirumah karena khawatir dengan pengentalan darahnya, Alhamdulilah dokter berinisiatif untuk cek D-Dimmer saya setelah dapat info C19 negatif, pengentalan darah ini efek samping dari si virus Covid, jika tidak ditangani segera dapat menyumbat pembuluh darah menyebabkan stroke atau bahkan serangan jantung, beliau suruh baca artikelnya pak Dahlan Iskan untuk jelasnya
https://www.disway.id/r/1214/penantian-d-dimer
Untuk isoman dirumah, keputusan ada di dokter spesialis paru yg merawat covid saya, Dr Kristov masih belum mengijinkan saya isoman dirumah dikarenakan masih ada obat antivirus yang perlu dituntaskan, paling cepat senin saya bisa diijinkan pulang.
SENIN 15 MARET 2021
Alhamdulilah akhirnya saya diberikan ijin pulang untuk isoman dirumah, kondisi badan sendiri sudah jauh lebih enak, Alhamdulilah kantor membayar full biaya pengobatan saya selama 10 hari mencapai Rp 73.8 juta, saya hanya bayar 200ribu untuk multivitamin sebagai rawat jalan.
Ternyata efek dari Covid19 belum selesai, sore hari sehabis bangun tidur siang, tiba2 seluruh badan saya gatal luar biasa, timbul ruam2 merah diseluruh badan, seperti orang terkena alergi, pagi hari nya makin banyak ruam2 yang terjadi, seblum ke RS kembali saya konsultasi ke keponakan yang spesialis penyakit kulit, beliau menyampaikan kalau itu adalah manifestasi dari covid19 isitlahnya viral exanterna, dikasih obat anti alergi cetirizine, Alhamdulilah diminumkan obat itu rasa gatal berkurang walaupun bercak2 merah masih menyebar diseluruh tubuh
Alhamdulilah Jumat pagi 19 Maret bercak merah mulai memudar dan gatal pun hilang, kondisi sekarang sudah tidak ada yang dirasa lagi, semoga tidak ada timbul efek lanjutannya, tinggal hari senin 22 Maret, cek darah kembali dan kontrol ke dokter terutama untuk SGPT dan SGOT nya.
Semoga teman2 yang membaca blog ini tidak sampai terkena virus C19 ini, tetap jaga kesehatan.


























