Sunday, August 23, 2020

Banyuwangi - Bali Day 8 : 28 DEC 2019 (Blue Lagoon Beach, GWK)

Saya terbangun sebelum subuh, karena badan terasa dingin, ternyata suhu di display HP menunjukkan 19°C lumayan dingin, mencoba tidur kembali pun sudah tidak bisa, akhirnya menunggu subuh yang kira2 30 menit lagi.

Setelah sholat subuh, cuaca terlihat cukup cerah siluet gunung agung pun mulai tampak, sekitar jam 5 saya naik ke rooftop penginapan, penginapan ini punya rooftop untuk mengamati sunrise, disisi lain ke arah Gunung Batur, cahaya cahaya senter berkelap kelip mengarah ke atas gunung batur, Gunung Batur sendiri punya spot untuk trekking ke puncaknya, sebagai informasi jika mau naik keatas bisa mulai naik sekitar jam 2 pagi, spot yang ditawarkan adalah menyaksikan sunrise dari puncak gunung, well karena kita bawa anak, tujuan ini kita coret dan kita cukup puas menyaksikan sunrise dari rooftop penginapan, tidak ada halangan apapun untuk menyaksikan sunrise.

Sekitar jam 5.30 matahari secara perlahan mulai menunjukkan cahayanya, lokasi matahari terbit diarah sekitar gunung agung dan caldera dari gunung batur purba, cuaca cukup cerah yang mengarah ke gunung Agung, namun sepertinya awan setelah gunung agung cukup tebal, jadi yang terlihat hanya bias cahayanya saja, mataharinya sendiri tidak terlihat karena tertutup awan.


Sunrise di lembah Batur


View dari Tiing

Setelah sarapan, kita check out dan melanjutkan perjalanan ke arah Blue Lagoon Beach, lokasinya didekat padang bai, dari informasi yang saya baca lokasi ini bagus untuk snorkling di pinggir pantai, rencana saya dan Dzakia akan mencoba snorkling disini.

Perjalanan dari utara ke selatan (timur bali) menempuh waktu sekitar 2 jam. Sekitar jam 12an kita tiba di Blue Lagoon Beach, lokasinya cukup terpencil di sebuah teluk kecil, pengunjung yang kami temui 100% turis asing, sampai sini ibunya anak2 dan Ditha ogah untuk turun, karena udah capek jadi hanya saya dan Dzakia yang turun ke pantainya.

Setelah tiba dipantai memang hampir semua turis melakukan snorkling, saya dan Dzakia membatalkan niat snorkling karena cuaca aangat panas dan ombaknya juga cukup besar, akan susah untuk snorkling.

Blue Lagoon Beach
Akhirnya saya dan Dzakia kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke arah GWK (sebelumnya kita gagal kesini dan jadi penasaran).

Dalam perjalanan sempat mampir ke Krisna mencari oleh oleh.

Sekitar jam 4 sore, kita sampai di GWK, beli tiket masuknya kita pakai KLOOK dapat diskon, harga tiket lumayan mahal normalnya dewasa 125 ribu dan anak2 100 ribu pakai klook dapat diskon jadi 110 dan 80 ribu.

Tips dari kami sebaiknya datang dari pagi, karena banyak pertujukan yang akan terlewatkan jika tiba sudah sore. Kamipun hanya tersisa 1 pertunjukan yakni tari kecak, karena kita sudah lihat di Uluwatu jadi kita explore GWK saja, muter2 di GWK sekitar jam 19.30 kita keluar dari GWK untuk kembali ke Hotel, selain itu saya juga udah janji sama rental mobil untuk diambil mobilnya dihotel sekitar jam 9 malam.


Bergaya di GWK

Hotel menginap kita hari ini di Harris Tuban, persis sebelah bandara, kita menginap disini karena besok flight ke Jakarta jam 9 pagi dan bisa hanya jalan kaki ke Bandara, ternyata sewaktu check ini ada free antar jemput shuttle ke Bandara, Alhamdulilah besok pagi tidak perlu jalan.
Perjalanan hari ini dari utara ke selatan
Tags : GWK, Batur Sunrise, Blue Lagoon Beach

Banyuwangi - Bali Day 7 : 27 DEC 2019 (Danau Batur)

Pagi ini kami betangkat agak santai, karena tempat yang dituju hanya Danau Batur dan Sholat Jumat, jam 9an kita pun check out dari penginapan, lanjut ke rumah makan jawa timur untuk sarapan.

Selesai sarapan kita meluncur ke Danau Batur, sampai Danau Batur sekitar jam 10.30 kita pun hanya nongkrong di area diatas tebing lembah, yang merupakan caldera dari Gunung Batur Purba jadi bisa melihat seluruh lokasi dan lokasinya juga dipinggir jalan. Kita berencana untuk turun kebawah setelah Sholat Jumat



Gunung Batur & Danau Batur
Sekitar jam 11.45 kita pun bergegas ke Masjid Al Muhajirin di Kintamani untuk sholat Jumat
Masjid Besar Al Muhajirin Kintamani

Setelah sholat Jumat, lanjut makan siang di dekat Masjid, setelah itu kita lanjut ke bagian bawah kaki gunung Batur untuk melihat lava rock sisa sisa letusan gunung Batur


Lava Rock Gunung Batur
Setelah puas berkeliling kitapun memilih untuk beristirahat di penginapan, sempat ada keinginan ke desa Trunyan dimana disana ada sistem pengawetan mayat secara alami, dimana mayat/jenazah manusia diletakkan begitu saja dibawah pohon Trunyan, nantinya jasad tersebutakam terurai namun tidak mengeluarkan bau busuk, akses kesana hanya bisa menggunakan perahu menyebrangi danau Batur, kami memilih tidak kesana karena membawa anak-anak dan cuaca juga mendung agak gerimis.

Akhirnya kita bergerak ke penginapan, yakni Tiing Bali Guest House, penginapan ini cukup murah dapat dari booking.com dan letaknya pun sangat strategis dengan view gunung batur, danau batur dan gunung Agung jika cuaca cerah terlihat.
Tiing Bali Guest House


View dari Tiing Bali Guest House


Gunung Batur dari Tiing Guest House

View dari teras kamar
Gunung Agung masih tertutup awan

Di penginapan ini, temboknya dilapisi dengan bilik bambu, seolah2 kita menginap di gubuk bambu, padahal hanya temboknya saja yang dilapis, kita menginap semalam disini.

Rute perjalanan hari ini

Tag : Gunung Batur, Kintamani, Tiing Bali Guest House

Banyuwangi - Bali Day 6 : 26 DEC 2019 (Ubud, Penglipuran, Besakih)

Sekitar jam 7.30 kita keluar hotel, spot pertama yang dituju Tegalalang Rice Field Ubud, perjalanan hanya 20 menit dari penginapan, disini kita hanya sebentar foto2 dan balik lagi ke mobil, nothing special karena sawahnya sebagian sudah dipanen dan sebagian lagi siap panen jadi hamparannya kurang hijau.
Tegalalang Rice Fields

Perjalanan dilanjutkan ke Istana Kepresidenan Tampak Siring, sampai sini ternyata zonk, ternyata kita tidak boleh masuk ke dalam, jika ingin berkunjung harus membuat surat ijin 1 minggu sebelumnya, kecewa karena baca review di google map tidak ada yang mengarahkan kalau harus buat surat ijin, akhirnya kitapun mutar balik ke spot berikutnya, di google map pun saya tambahkan review jika harus ijin dahulu agar tidak ada orang yang zonk seperti kami.

Spot berikutnya kita ke desa wisata Penglipuran, tidak ada tiket masuk, hanya biaya parkir sebesar 15,000. Desa ini ditata sedemikian rupa sehingga nyaman dan cantik untuk dikunjungi, desanya pun bersih, hanya ada 1 jalan lurus dari bawah ke atas +/- 500 meter yang diujung atasnya terdapat pura, ada puluhan rumah2 penduduk di kanan kiri yang bangunan pintu masuknya dibuat mirip, jadi seperti masuk dilingkungan cluster perumahan, bedanya disini tidak ada kendaraan yang boleh masuk dan bangunan rumah di kanan kirinya bercorak khas Bali, setiap rumah rata-rata menyediakan beragam hasil kerajinan tangan mulai dari tas rotan, pajangan dan pakaian untuk dijadikan cinderamata, cukup bagus konsepnya dengan memberdayakan perekonomian warga lokal, barang yang ditawarkan pun jauh lebih murah dibandingkan jika beli oleh2/cinderamata di pusat kota, ditambah bisa dilakukan negosiasi ala emak2 😀




Desa Penglipuran

Setelah puas berkeliling, kita pun keluar dari desa dan mencari makan siang, cari lokasi di google map untuk makan siang halal, diarahkan ke kota Bangli dimana terdapat rumah makan muslim khas ngawi, akhirnya kita makan disana dilanjutkan dengan sholat Dhuhur dijamak Ashar di masjid sebelah rumah makan, oh ya saat itu sedang ada sholat gerhana matahari cincin di masjid tersebut.

Waktu masih menunjukkan pukul 14.00, sesuai jadwal seharusnya kita sudah kembali ke penginapan, karena masih siang akhirnya kita lanjutkan ke Pura Besakih, seharusnya jadwalnya baru akan dikunjungi besok.

Sekitar perjalanan 30 menit, tibalah kita di Pura Besakih, kondisi cuaca gerimis, kamipun menyewa payung, jarak antara parkiran dengan pura lumayan jauh, namun gratis naik ojek untuk ke pura nya (sekali jalan) harga tiket udah termasuk ojek dan pemandu.

Setelah membeli tiket, Alhamdulilah hujan pun mereda, sia2 kita menyewa payung.

Setelah diturunkan oleh tukang ojek tepat dibawah gerbang masuk pura, tiba2 segerombolan ibu2 mengasih sesajian plus dupa, kita bingung buat apa ini karena kami Muslim dan gak perlu gini2an, mereka serempak bilang harus bawa ini untuk menghormati, akhirnya terpaksa diambil dengan harga per pack 10ribu dikali 4 pack.
Lokasi kita kena scam sesaji
Setelah jalan 50 meter dari situ, ada ibu penjual sesaji menanyakan, buat apa bawa sesaji, kan tidak digunakan untuk sembayang, lah kita bingung, akhirnya dijelaskan sama si ibu kalau kita sudah dibohongi, perasaan jengkel penuh kesal timbul kalau kita udah kena scam 🤬 akhirnya sesajinya kita kasihkan ke ibu itu, hal yang kita sesalkan juga guide yang membawa kita (dia salah satu tukang ojeknya) tidak bilang sama sekali, dia setelah turun dari motor si guide langsung ke kantor penjagaan untuk mengecap tiket kita, jadi baru ketemu lagi setelah kita melewati si ibu penjual yang tadi.

Pura Besakih merupakan pura terbesar di Bali, bisa dibilang pura ini merupakan ibu dari semua pura yang ada di Bali, Pura Besakih ini persis dibawah kaki gunung Agung, namun sayang sekali sewaktu kita disana gunung agungnya tertutup kabut tebal jadi tidak bisa difoto dengan bagus.
Pura Besakih
Jika cerah backgroundnya gunung Agung




Setelah semua komplek dijelajahi, kita pun kembali ke arah parkiran, dengan terlebih dahulu mengabadikan para ibu2 pelaku pemaksaan membeli sesaji.

Jalan ke parkiran menurun jadi tidak terasa capek, disepanjang jalan sebelah kanan banyak yang menjual oleh2 mulai dari kerajinan tangan sampai baju2, tips kalau ingin membeli sebaiknya disini karena kalau beli di pusat kota seperti di Krisna dengan barang yang sama jauh lebih murah disini.

Setelah puas belanja, kamipun kembali ke penginapan, ternyata area Ubud Central nya macet luar biasa, tiba di penginapan jam 8 malam dan seperti kemarin sudah ditunggu 4-5 anjing galak 😀 dan kitapun panggil staff penginapan lagi untuk mengamankan anjing2 tersebut 😀
Rute hari ini


Tag : Pura Besakih, Desa Penglipuran, Tegalalang Rice Field



Banyuwangi - Bali Day 5 : 25 Dec 2019 (Bali Safari)

Hari ini rencana agak santai plan kita hanya ke Bali Safari, keluar sekalian check out dari hotel jam 9, kembali sarapan pagi di pecel bu Tinuk, setelah sarapan lanjut ke Bali Safari, Bali Safari letaknya di arah ke Gianyar, perjalanan cukup lancar karena jalannya besar dan 3 jalur dengan separator, sampai sekitar pukul 11.00.

Bali Safari ada 2 konsep, taman satwa dan waterpark, kita tidak masuk ke waterparknya hanya ke taman margasatwanya, Bali Safari ini sepertinya 1 pengelola dengan Taman Safari Cisarua Bogor, namun konsep untuk melihat satwanya berbeda, disini untuk memutari area satwa memakai bis model Tram yang disediakan oleh pengelola, ditambah guide yang menyampaikan kondisi satwa yang ada di area Bali Safari.
Didalam Bis/Tram


Sekitar jam 3 sore, kita keluar dari Bali Safari dan mencari makan siang yang halal di area terdekat, kita pun makan siang di Rumah Makan Taliwang disekitar Gianyar.

Selesai makan, anak2 sudah cukup lelah, rencana dilanjutkan ke penginapan di daerah Ubud, penginapan yang kita book dari booking.com namanya Pondok Ayu Shanti modelnya seperti Villa, rate cukup murah, 2 kamar untuk 2 malam hanya 900 ribuan.

Akses ke lokasi ternyata tidak ada jalan yang bisa dilewati oleh mobil, jalan yang ada hanya untuk jalan motor, saya hubungi pihak hotel untuk tempat parkir mobil, dari staff hotel memberikan tempat di lahan kosong pinggir jalan besar sekitar 50 meter dari gang masuk ke hotel sebagai tempat parkirnya, yang diklaim lokasinya dimiliki oleh pemilik hotel.

Drama selanjutnya terjadi begitu saya parkirkan mobil, sekitar 5-6 ekor anjing tiba2 datang berkumpul dengan gonggongan yang tidak ramah ke kami, kami sekeluarga yang takut anjing pun ngeri untuk keluar, akhirnya telpon kembali untuk minta staff hotel menjemput di gang masuk ke hotel, akhirnya staff hotel pun menjemput di gang masuk sekalian menjinakkan anjing yang lumayan banyak.

Akhirnya dengan drama tersebut tibalah kita dipenginapan, penginapannya cukup simple dengan konsep villa dan kolam renang, sebenarnya tempatnya cukup nyaman dengan suara berbagai macam serangga dan burung terdengar sehingga benar2 tinggal di pedesaan, hanya saja aksesnya yang susah dilalui hanya bisa dengan motor, staff dan pemilik penginapan pun cukup ramah.
Pondok Ayu Shanti

Malam itu kita tidak keluar penginapan, saya hanya meminjam motor staff penginapan untuk ke minimart membeli snack dan pop mie, untuk makan malam hari ini.
Rute Perjalanan hari ini
Tag : Bali Safari, Pondok Ayu Shanti

Banyuwangi - Bali Day 4 : 24 DEC 2019 (Tanah Lot, Uluwatu)

Hari ini rencana kami akan ke Tanah Lot, GWK dan Uluwatu untuk menyaksikan Kecak Dance. Kita menyewa mobil lepas kunci untuk 5 hari yang langsung dikirim ke hotel.
Kolam Renang Hotel Tusita

Karena perjalanan yang melelahkan kemarin, setelah sholat subuh kami tidur kembali dan bangun agak siang, sekitar jam 8.30 kita berangkat ke Tanah Lot dengan mampir terlebih dahulu sarapan di rumah makan nasi pecel bu Tinuk, RM ini cukup legendaris yang spesial adalah nasi pecel sayurannya dengan bumbu kacangnya yang gurih dan pedas, ada juga yang tidak pedas bagi yang tidak suka, selain pecel, banyak dan bervariasi lauk2 pendampingnya, jadi bagi yang tidak suka nasi pecel bisa pilih lauk/sayur lain.
Pecel Bu Tinuk

Perjalanan dilanjutkan menuju Tanah Lot, musim liburan di Bali kemacetan yang terjadi terutama area kuta luar biasa, jarak ke tanah lot yang hanya 24 KM dari hotel ditempuh dengan waktu 2 jam lebih 😥 akhirnya kita tiba di tanah lot.

Tanah lot ini merupakan komplek pura yang terletak di pinggir pantai, terdapat 2 pura, yang 1 di bukit kecil membentuk pulau kecil jika laut pasang maka tidak bisa dilintasi jalan kaki harus pakai perahu, jika laut lagi surut bisa dilintasi, saat kita tiba laut lagi surut sehingga bisa dilintasi, saat itu juga sedang ada acara keagamaanmelarung sesembahan dan 1 lagi pura diujung bukit bawahnya terbentuk karang bolong.

TANAH LOT

Setelah puas, kami lanjut menuju GWK (Garuda Wisnu Kencana) jam 1 kita sudah bertolak dari Tanah Lot, ternyata jalanan macet luar biasa, sampai daerah jimbaran jam 16.30, ketemu masjid, kita pun sholat dahulu disitu, berhubung waktu sudah sore, kita lewatkan GWK dan lanjut ke Pura Uluwatu untuk menyaksikan sunset dan kecak & fire dance yang sudah kita beli tiketnya untuk jam 18.00.

Namun lagi2 kita telat tiba karena macet luar biasa, tiba di Pura Uluwatu sudah jam 18.25, sempat pasrah tiket kecaknya akan hangus jadi hanya bisa menyaksikan sunset.
Sunset at Pura Uluwatu

Tiba diloket penukaran tiket kecak jam 18.30, Alhamdulilah petugasnya malah menyarankan untuk masuk di show ke2nya yakni jam 19.15 dan tiket tidak hangus, kita pun lega dan bisa tersenyum lebar 😀

Akhirnya show pun dimulai, cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan mengenai cerita mahabarata dengan latar penculikan shinta yang akhirnya berhasil diselamatkan oleh Hanoman dan Rama.
Tari Kecak & Fire Dance

Setelah selesai kita pun kembali ke hotel, sempat mampir ke pelataran parkir GWK, GWK nya sendiri sudah tutup karena sudah jam 10 malam, kitapun lanjut ke hotel untuk beristirahat.

Rute Perjalanan hari ini


Tag : Tanah Lot, Uluwatu, Kecak & Fire Dance, Pecel Bu Tinuk, sunset at pura uluwatu